Kejang Kompulsif
Seorang ayah
bercerita, ia menyesali ketidak-dekatannya dengan putri sulungnya. Putrinya
satu
satunya yang kini tergeletak tak berdaya setelah tiga
hari berturut turut kejang per dua menit
selama 24 jam.
Aku pun tersambar mendengar berita itu. Sangat
terkejut. Ya Allah...belum pernah kudengar
penyakit itu dan tak kuketahui apa penyebabnya. Katanya
kejang kompulsif. Subhanallah.
Bu...saya dihantui rasa bersalah terus. Sehingga anak
saya begini. Ini salah saya bu. Kemarin
kemarin masih sehat bugar..ceria ..saya inget waktu
jemput ke pondok. Ia keliatan senang. Tapi
kami belum sempet berbahagia bersama dirumah... Saya
lihat dream nya yang cara penulisannya ga
beraturan....sedih bu lihat kondisi sekarang. Hanya
terbaring lemas. Ga bisa komunikasi. Ga bisa
makan minum....Ampuun ya Allah. ..
Aku pun tergores. Pilu.
Sebenernya speechless. Entah kalimat apa yang hendak saya jawab.
Karena akupun tak akan sanggup.
Allah...Sang menggenggam jiwa manusia. Sang Pemberi
hikmah atas segala kejadian. Aku
turut bersedih hati dengan kondisi yang menimpa
sahabatku. Sahabat yang 13 tahun yang
lalu bekerja di sebuah perusahaan percetakan dan
penerbitan buku. Satu ruangan. Sama sama mengurusi Sumber Daya Manusia.
Kurang lebih 5 tahun bersama beliau kemudian ia memutuskan resign.
Sahabatku bercerita sebelum kejang, putrinya sempat
menelpon sambil menangis minta
pulang dari pesantren karena katanya sudah tak kuat
lagi berada di sana. Seorang ayah
menyemangatinya agar putrinya meneruskan menuntut ilmu.
Orangtuanya baru mengetahui bahwa putrinya mendapat
hukuman memakai jilbab kuning
sebagai tanda pelanggaran dikarenakan berpacaran.
Anaknya merasa semua santri dan guru
mencemoohnya. Mendapat ejekan dari segala penjuru.
Semua mata terasa menjadi penuntut
perkara.
Ayah menjemputnya dari pondok karena telah libur.
Senyum lebarnya membuat ayah
merasa lega bahwa keadaan putrinya baik baik saja. Ternyata tidak. Sepulang dari sana putrinya mengalami
kecemasan luar biasa. Tak mau lepas dari ayah. Susah tidur, gelisah, keringat dingin
bercucuran. Tak kuat ia menahan rasa takut yang berlebihan kemudian kejang. Panik luar biasa. Ayah
segera menghubungi psikiater yang ia kenal melalui guru ngajinya yang ternyata
psikiater itu adalah istri beliau. Diberi resep untuk diminum. Ya, obat penenang. Namun
berhari hari obat itu diminum
cemasnya tak kunjung reda.
Selang beberapa hari ,
mendapat kabar mengenai kejang yang tak kunjung reda.
Telah dibawa ke rumah sakit dan paksa pulang karena tak
ada perubahan.
Aku berkonsultasi pada sahabatku seorang dokter syaraf.
Jawabannya membuatku terkejut.
Kalau ga ada demam..penyebab
kejang bisa karena:
1. gangguan metabolik seperti gula darah terlalu tinggi
atau rendah..atau gangguan ginjal..ureum
kreatinin terlalu tinggi atau gangguan elektrolit
natrium terlalu rendah atau gangguan liver..bilirubin
terlalu tinggi.
2. bisa karena tumor di otak atau glioma dikortikal
(nama bagian d otak)
3. bisa karena gangguan vaskular dari otak (pembuluh
darah dari otak)
Bila demam ensevalitis viral bisa mempengaruhi ke
tingkah laku.. seperti jadi ngamuk..diajak ngobrol
ga nyambung..teriak-teriak
Kalau ada demam kemungkinan kejangnya bisa jadi
ensevalitis viral..meningo
ensevalitis...meningitis..nmdar ensevalitis...semua ini
bisa bikin kejang..bisa bikin perubahan tingkah
laku... inkoheren. Diajak ngobrol ga nyambung..sering
ngomong sendiri..halusinasi. Jadi harus ct
scan kepala periksa lab darah smaa MRI..ini pemeriksaan
pendukungnya.
Aku menarik nafas sepanjang panjangnya. Banyak
penyebab. Baik dari fisik maupun psikologisnya.
Berhari hari saya merenung. Berkaca pada diri sendiri.
Betapa berat amanah seorang ayah dan ibu
terhadap anak anaknya. Betapa sedikit ilmu yang
dimiliki. Di dunia saja rasa penyesalan dan
banyaknya PR pengasuhan begitu mendera. Apalagi di
akhirat nanti.
Oh...Rabbul Izzati...Maha Penolong. Maha Penyelamat.
Maha Pengampun. Aku tak bisa kemana
mana lagi selain menghadap-Mu. Bersimpuh kepada-Mu.
Teruntuk anakku yang namanya memiliki arti air surga,
Allah sangat sayang padamu. Begitu juga
pada kedua orangtuanya. Semoga Allah angkat penyakitnya
sebagaimana Allah angkat penyakit Nabi
Ayyub as.
Aamiin Ya Allah Ya Rahman Ya Rahiim.
Comments
Post a Comment