Hukma Belajar Pakai Jilbab

Kata Ummi, Hukma sudah besar, sudah kelas 2 SD. Maka, Hukma musti pakai jilbab kalau keluar rumah. Hukma banyak bertanya tentang jilbab.

“Mengapa kita harus pakai jilbab, Mi?”

“Karena selain perintah Allah, jilbab juga melindungi kita dari sinar matahari yang berbahaya untuk kulit dan membuat kita nyaman.”

“Apa iya, sih?” kata Hukma dalam hati.

“Mi, sinar matahari itu kan bermanfaat untuk mengolah vitamin D dalam tubuh kita. Mengapa berbahaya?” Hukma memang anak yang cerdas. 

“Sinar matahari pagi memang membantu pertumbuhan kita agar kuat tapi kalau sinar matahari siang hari yang sangat panas mengandung sinar ultraviolet yang menyebabkan kulit jadi kusam.”

Kening Hukma berkerut. “Kayaknya, Bu Guru belum pernah ngasih tahu Hukma seperti itu.”

Ummi tersenyum. “Hukma boleh bertanya pada Bu guru.”

Hukma tidak bosan-bosannya bertanya. Saat ikut ummi berbelanja, ia melihat banyak sekali ibu-ibu yang tidak pakai jilbab seperti dirinya dan ummi.

“Mi, kenapa Mbak-Mbak dan Ibu-Ibu yang tadi tidak pakai jilbab?”

Ummi yang sedang mengiris-iris wortel menjawab, “Mbak itu belum tahu kalau Allah menyuruh perempuan memakai jilbab.”

“Kalau gitu, Hukma kasih tahu ya, Mi.” Baru saja Hukma melangkah, ummi memberitahunya.

Ummi tersenyum, “Nak, Allah yang akan memberitahunya melalui orang lain.”

“Kenapa tidak Hukma saja?”

Ummi berpikir mencari jawaban. “Hukma kan belum dekat bahkan tidak kenal, nanti malah dikira menceramahi orang yang usianya lebih tua.”

Hukma manggut-manggut. Jawaban Ummi masuk akal. Tiba-tiba, ia berlari ke luar rumah begitu mendengar suara drum band. Hukma lupa memakai jilbab.

“Hukma!” Suara Ummi tertelan dentangan-dentangan suara drum band.

Ummi mengambil jilbab berwarna biru dan menghampiri putrinya yang berada di garis terdepan para penonton.

“Lupa ya, jilbabnya?”

Hukma tersenyum. Ia mengenakan jilbab yang diberikan ummi. Hukma terbiasa ke sekolah pakai jilbab. Sejak play group, ia memakai jilbab jika ke sekolah meski di sekolah ia lepas. Sekolahnya di TKIT dan SDIT menjadikan ia tidak melepas jilbab di sekolah. Hukma tahu bahwa aurat perempuan adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Bahkan, Hukma hafal ayat yang menyebutkan perintah jilbab. Namun tentu membutuhkan proses agar Hukma terbiasa mengenakan jilbab di luar rumah.

Sebelum kelas 2, Ummi masih mengizinkan Hukma melepas jilbab saat bermain. Tapi karena Hukma beranjak besar, ummi ingin membiasakannya memakai jilbab meski belum wajib hukumnya. Menurut ummi, pembiasaan memakai jilbab ini akan memudahkannya dalam mengenakan jilbab kalau Hukma memang sudah wajib mengenakan jilbab. 

***

 

Hukma meloncat-loncat sambil berhitung. Ia bermain karet bersama Husna dan Nadia. Keringatnya bercucuran. Rambutnya banyak yang menyembul dari jilbabnya.

“Hukma, rambutmu kelihatan.” Nadia yang tidak memakai jilbab mengingatkan.

Hukma berhenti meloncat dan membetulkan jilbabnya. Ia merasa gerah dan risih dengan jilbabnya. Ia merasa tidak leluasa bermain. Sebentar-sebentar ia membetulkan jilbab. Tidak seperti Husna dan Nadia. Mereka tidak perlu berhenti bermain karena membetulkan jilbab.

Setelah beberapa lama, Husna memberitahu Hukma, ”Itu jilbabnya miring-miring, Hukma.”

Hukma membetulkannya lagi.

Teman-teman yang lain berdatangan ke lapangan. Dodi, anak kelas 4 mengajak teman-temannya bermain kasti, termasuk Hukma, Nadia dan Husna. Ketiga anak itu menghentikan permainan karetnya.

Permainan kasti berjalan seru. Berkali-kali kelompok Hukma harus jaga sebab ada salah satu anggota kelompoknya yang sering kena bola oleh lawan. Dan berkali-kali juga Hukma harus membetulkan jilbabnya yang menutupi matanya saat ia berlari.

Akhirnya Hukma tidak betah dengan jilbabnya.

“Mi, kenapa hanya aku yang pakai jilbab? Sedang Nadia dan Husna tidak pakai padahal mereka juga sekolah di SDIT.”

Ummi mengerti, putrinya mulai protes tentang jilbabnya. Kalau sedang kesal, Hukma menggunakan kata aku daripada namanya sendiri.

“Agar Hukma terbiasa mengenakan jilbab.”

“Kenapa Husna dan Nadia tidak dibiasakan pakai jilbab?” tanya Hukma tidak puas dengan jawab ummi.    

“Kalau teman Hukma belum pakai jilbab, berarrti Hukma bisa menjadi teladan bagi teman-teman…”

Benar juga kata ummi. Hukma berkata dalam hati. Tapi…

“Mi, Hukma gerah sekali jika bermain menggunakan jilbab. Udah gitu, mata Hukma sering tertutup jilbab saat berlari atau loncat-loncat.  Jadi terganggu banget, deh,” ucap Hukma lucu.

Ummi mengerti. Namun, ummi agak bingung menjawab pernyataan Hukma. 

“Insya Allah, nanti Hukma akan terbiasa sayang seperti teman Ummi yang selalu pakai jilbab. Padahal ia pemain basket nasional,” cerita ummi.

Mata Hukma terbelalak. “Benarkah, Mi?”

Ummi mengangguk dengan senyum.

“Ayo Ummi tunjukkan foto teman Ummi.”

Hukma berjalan mengikuti Ummi ke kamar.

“Dulu, pakai jilbab itu tidak mudah. Banyak teman-teman Ummi yang harus berjuang keras mempertahankan jilbabnya. Termasuk teman Ummi ini. Namanya Amah Alya. Dia teman dekat Ummi. Mulanya, banyak yang menentang Amah Alya karena ia tetap memakai jilbab saat bermain basket. Bahkan tidak jarang ia harus bertengkar dulu dengan pihak panitia bola basket karena ia tetap ngotot pakai jilbab. Namun karena Amah Alya menunjukkan kemahirannya bermain basket, lama-kelamaan ia diakui. Tapi, perjuangannya sangat berat.” 

Hukma melihat foto ummi dan amah Alya yang sedang berangkulan. Ada foto Amah Alya mengangkat piala dan foto-foto amah Alya yang sedang bermain basket tanpa melepas jilbabnya. 

“Tapi Mi, Amah Alya kan sudah dewasa, Hukma kan masih kelas 2 SD. Hukma belum kuat pakai jilbab terus. Boleh ya Hukma melepas jilbab saat lari-lari atau bermain karet… Tidak sering-sering kok, Mi.”

Ummi tersenyum dan dengan berat hati mengangguk.

Sejak Hukma mengeluh tentang jilbabnya, ummi tidak begitu mengharuskan Hukma memakai jilbab. Ummi khawatir Hukma menjadi terpaksa mengenakan jilbab. Bukan karena kesadarannya.

Kadang Hukma menanggalkan jilbabnya. Ia menaruh jilbabnya di mana saja. Di pagar tetangga, di bebatuan atau di tanaman bunga kertas yang cukup rindang. Pernah suatu saat ia lupa membawa pulang jilbabnya. Seorang tetangga menyampaikan jilbab itu pada ummi. Meski demikian ummi tidak pernah kesal apalagi marah. Ummi sangat maklum dengan usia putrinya yang masih kecil.

“Tadi ibunya Bowo menemukan jilbab Hukma dipagar rumah beliau.”

“Oh iya. Hukma lupa, Mi. Hi…hi…”

Ummi tersenyum.

Suatu sore, Hukma dan teman-temannya yang sudah rapi dan wangi melihat burung-burung merpati di lapangan. Mereka berdiri di bawah pohon yang rindang. Orang-orang juga banyak berkumpul di sana. Burung-burung merpati akan di terbangkan dan akan kembali lagi ke kandangnya.

Hukma kasihan melihat burung-burung itu disuruh balapan. “Tentu mereka ingin bebas dan tidak dipermainkan”, gumam Hukma. Baru saja melihat sebentar, Hukma tidak betah. Ia mengajak Husna, Sita dan Nadia pulang.

“Nanti dulu Hukma. Baru saja kita ke sini,” kata Sita.

Hukma terpaksa menunggu. Tiba-tiba saja, ada kotoran burung yang jatuh ke rambut Nadia. Tangan Sita kena juga. Mereka tidak tahu kalau ada burung-burun yang bertengger di pohon.

“Yah, kena kotoran burung!” seru Sita.

“Aku juga!” timpal Nadia. “Duuh, sudah mandi, terpaksa mandi lagi.”

Hukma melihat kotoran yang ada di rambut Nadia dan tangan Sita dengan jijik. Tiba-tiba saja, kepala Hukma juga kena. Husna tertawa melihat temannya terkena kotoran. Namun, rambut Hukma tidak terkena kotoran itu. Sebab ia memakai jilbab.

Angin sore yang cukup kencang menerbangkan pasir-pasir dan debu yang banyak terdapat di lapangan itu. Rambut Nadia, Sita dan Husna menjadi kotor. Padahal, rambut mereka baru saja disampo. Berbeda dengan Hukma yang pakai jilbab. Pasir dan debu tidak menempel di kulit dan rambutnya.

“Kamu beruntung Hukma telah memakai jilbab. Kulit dan rambutmu jadi tidak kotor,” kata Sita yang cemberut melihat tangannya kotor kena debu. Yang lainnya mengiyakan. Hukma diam saja. 

Di jalan, teman-teman putra mengolok-olok Sita dan Nadia. Tapi Hukma tidak jadi bahan tertawaan. Hukma kasihan pada Sita dan Nadia.

“Allah menyuruh kita, perempuan, menutup aurat, memakai jilbab tentu saja banyak manfaatnya untuk kita sendiri. Selain untuk menjaga kesehatan, juga Insya Allah kita jadi aman dan tidak diganggu oleh orang-orang yang jahil,” kata ummi setelah Hukma menceritakan kejadian sore tadi.

Ya, benar juga ya kata Ummi…

 

Comments

Popular posts from this blog

Kejang Kompulsif

Ujian Single Parent

Sendiri