Jagoan Sejati
Sudah satu minggu ini, di kelasku, IV B, ada anak baru. Ia baru pindah dari Surabaya. Anaknya sangat pendiam, sukanya baca buku... melulu. Perawakannya kurus, kecil dan hitam.
Namanya Moko Wicaksono.
Sejak hari pertama Moko di kelas ini, Galang dan teman-teman sudah mengganggunya. Mereka mengejek-ejek fisik Moko. Aku tidak bisa berbuat banyak. Kalau aku membela anak baru itu, bisa-bisa sepulang sekolah aku dicegat oleh Galang yang terkenal bandel itu. Hiii…Galang terkenal jago karate. Sejak TK ia sudah dilatih karate oleh ayahnya. Ia juga sering menyabet piala kejuaraan di PORDA Jawa Tengah. Tapi sayang, karatenya itu sering digunakan untuk berkelahi.
Suatu ketika, setelah pelajaran terakhir, Moko mencari-cari sepatunya. Aku melihat Galang dan teman-temannya tertawa-tawa dari jauh. Mungkin, mereka yang mengambilnya. Aku tidak berburuk sangka, tapi, Galang memang sering usil.
“Moko! Ayo, ikut mobilku saja! Hari ini ayahku sedang cuti sehingga bisa menjemputku dan mengantarmu sampai rumah. Kakimu bisa kepanasan, lho.” Aku tidak tega melihatnya tidak mengenakan alas kaki. Hari ini, Semarang sedang terik-teriknya. Biasanya, aku pulang naik kendaraan umum. Tiba-tiba, Rudi, teman dekat Galang, menyenggol lenganku. Ups, dia pasti mendengar kata-kataku.
“Rumahku dekat, kok, Ardi, terimakasih,” kata Moko menolak dengan halus.
Keesokan harinya, Galang memelototiku dan berkata,”Kamu mau jadi pahlawan, ya, Ar! Mau menolong anak baru itu?”
“Memangnya kenapa kalau aku ingin menolongnya?” kataku memberanikan diri. Padahal, aku deg-degan.
“Tunggu aku, pulang sekolah, nanti!” ancam Galang padaku.
Duh, aku kena, deh! Kalau Galang memukulku bagaimana? Aku cemas. Aku melirik pada Moko yang duduk tidak jauh dariku. Lalu, aku melihat Galang yang tersenyum sinis ke arahku.
TEEET! TEEEET! TEEET! TEEET! TEEET!
Waaaaa! Bel pulang sekolah. Bunyinya seperti palu yang menghantam kepalaku. Aku terdiam di bangku. Aku takut pada Galang. Apa yang akan akan dilakukannya padaku nanti?
“Ardi, ayo, pulang denganku!” Moko merangkulku.
“Moko… Galang akan mencegatku,”kataku gugup.
“Oh begitu? Mengapa?” Tanya Moko heran.
“Karena…kemarin aku menawarkan bantuan padamu…”
Moko menghela napas, “Tidak apa-apa, Ar. Tenang saja.”
Aku sudah melihat mereka dari kejauhan. Galang dan teman-temannya berdiri di bawah pohon rindang, di belokan sekolah.
“Lama sekali kamu! Takut ya…!” ledek Rudi, teman akrab Galang.
“Teman, teman maaf, kami hanya ingin pulang cepat,” seru Moko tegas menghalau tangan teman-teman Galang yang menghalanginya.
“Berani benar kamu!” kata Galang marah. “Rud! Ded! Yo! San! Beri mereka pelajaran!” perintah Galang pada teman-temannya.
“Tunggu! Bukankah seorang karateka tidak mengenal kata keroyokan? Karateka sejati berani maju sendiri,” kata Moko. Mereka mundur, kecuali Galang.
Beberapa saat kemudian,Galang mengeluarkan jurus-jurus karate. Ternyata Moko juga jago bela diri! Tidak ada sepuluh menit, Galang terjatuh. Kakinya disapu oleh Moko. Teman-teman Galang terperangah untuk kedua kalinya. Galang yang jago karate itu kalah oleh Moko!
Moko mengulurkan tangannya pada Galang. Tapi, Galang menepisnya.
“Aku minta maaf, Galang. Semoga kamu mengerti, aku tidak berniat mempermalukan kamu di hadapan teman-teman,” Moko berkata dengan bijak.
Galang berdiri dengan sebal. Ia mengajak teman-temannya pergi. Moko menarik napas panjang.
“Hei, kamu bisa bela diri juga? Hebat kamu Moko!” kataku[AN1] , menepuk pundaknya. Aku tidak menyangka, Moko yang berperawakan kecil dan kurus itu seorang jagoan! Moko hanya tersenyum.
Ternyata, rumah Moko tidak jauh dari sekolah. Aku diminta mampir ke rumahnya. Wah, rumahnya bagus dan besar! Di ruang keluarga berderet piala milik Moko. Kebanyakan, piala itu ia peroleh dari pertandingan karate.
“Kamu sudah sabuk coklat Moko? Artinya apa?” Aku melihat beberapa sabuk terpampang di ruang keluarga.
“Sabuk coklat itu artinya karateka haru punya karakter rendah hati dan menolong sesama. Teknik karate memiliki tiga bagian utama. Kihon atau teknik dasar, kata atau jurus, dan kumite atau pertarungan. Biasanya kalau kumite untuk karateka bersabuk biru, coklat dan hitam. Alhamdulillah, saya sudah mempelajari menggunakan senjata.”
“Wah, hebat!” aku terkagum-kagum.
Keesokan paginya. Sekolah masih sepi. Namun, Galang telah menunggu di depan pintu kelas. Aku dan Moko saling bertatapan.
“Ada apa ya?” bisikku pada Moko. Moko angkat bahu.
“Aku minta maaf, Moko,” Galang menyalami Moko.“Kemarin, ayahku melihat bekas tendanganmu. Ternyata, Ayah mengenalmu. Orangtua kita bersahabat dan satu perguruan. Kamu hebat sudah bisa mengikuti kumite. Aku baru latihan-latihan dasar kata. Ayah menasehatiku untuk menjadi karateka sejati.” “Kamu juga hebat, kok.” Moko merangkul Galang.
“Aku minta maaf juga padamu, Ardi,” kata Galang, membuatku lega.
[AN1]untuk mata. dan aku tidak bisa lihat mataku sendiri.
Comments
Post a Comment