Mengatur Penggunaan Gadget pada Anak
Bagaimana mengatur penggunaan gadget pada anak? Ini yang sering menjadi keluhan para orangtua. Terlebih saat ini, dimana anak-anak lebih banyak di rumah. Sepertinya tidak cukup hanya berkata,
“Jangan main hp terus.”
Lalu, bagaimana, dong? Salah satu cara agar anak bisa mengatur penggunaan handphone yaitu mengajak anak untuk melatih kemampuan mengatur dirinya sendiri. Istilahnya Regulasi Diri. Regulasi diri ini adalah kemampuan untuk mengatur dalam memilih informasi yang bermakna dan memilah kegiatan yang berguna sehingga ia bisa mencapai tujuan, keinginan atau cita-citanya.
Sebelum melatih kemampuan mengatur diri, kuatkan dulu motivasinya.
Motivasi akan tumbuh jika anak sudah memperoleh rasa nyaman. Rasa nyaman bukan berarti kondisi serba ada atau semua terpenuhi. Bukan. Rasa nyaman ini dibangun oleh kedekatan orangtua kepada anak sehingga anak nyaman untuk mengeluh dan bercerita serta nyaman untuk memberikan pendapatnya.
Bagaimana caranya? Banyaklah mengelus dan ngobrol dengan anak dari hati ke hati. Sampaikanlah maaf atas kekurangan yang ada pada kita sebagai orangtua. Seringlah memberi apresiasi padanya. Ucapkanlah terima kasih padanya telah menjadi anugerah yang paling berharga. Ucapkanlah selamat padanya, yang telah mampu melakukan banyak hal. Mampu memakai baju sendiri, bisa makan sendiri, sudah menjalankan shalat, telah berusaha menyelesaikan tugas, dan lain-lain.
Sisipkan visi misi besar kehidupan dalam tiap obrolan agar anak memiliki tujuan dalam hidup, yakni sebagai hamba Allah, bahwa semua yang kita lakukan di dunia tujuannya ibadah dan taat kepada Allah. Menjadikan Allah satu-satunya tujuan, meminta pertolongan dan kebergantungan. Juga sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan bumi, mengajak pada kebaikan dan mencegah keburukan.
Jika motivasi anak sudah terbangun, in syaa Allah, akan lebih mudah melatih kemampuan Regulasi Dirinya.
Yup, sekarang kita ngobrol tentang regulasi diri.
Mengatur diri dimulai dari menetapkan tujuan. Apa yang ingin dicapai oleh anak? Apa cita-citanya? Apa passionnya? Ingin bisa apa?
Selanjutnya komunikasikan strateginya. Bagaimana caranya mencapai tujuan itu. Buatlah perencanaan aktifitas, apa saja yang akan dilakukan.
Terus, action! Melakukan kegiatan sesuai perencanaan yang sudah dibuat tadi. Meski sudah ada kesepakatan kegiatan, anak-anak belum bisa ditinggal begitu saja, ya. Selama pelaksanaannya, kita memantau apakah kegiatan itu bisa terlaksana atau tidak sehingga apabila tidak berjalan, maka bisa kita evaluasi.
Apakah kegiatan itu sudah tepat? Apa hambatannya? Apakah anak menyukai kegiatan itu? Apakah anak mengalami kesulitan?
Yuk, kita eksplorasi kegiatan. Orangtua juga sambil belajar lagi.
Comments
Post a Comment