Penunggang Naga Terakhir

1.       Dicari: Calon Penunggang Naga Emas!

Malam begitu gelap dan sunyi. Desa Shu seperti tak berpenghuni. Penduduk tidak ada yang berani ke luar rumah. 

“Mengapa tidak boleh bermain di luar, Bu?” kata Changyi, anak laki-laki berbadan tinggi dan tegap.

“Ssst. Bergegaslah habiskan makanmu lalu ke tempat tidur. Tidak ada yang bermain di luar, apalagi anak laki-laki sepertimu,” jawab Ibu. Lalu ia mengunci pintu rumahnya rapat-rapat. Selain dengan gembok, juga palang pintu.

                “Yah, ngga rame! Padahal aku sedang mencari sahabat, Bu. Ular, kunang-kunang dan burung hantu. Bu…ayolaah.” Changyi membujuk ibunya.

                Ibu menghela napas panjang, memandangi putra semata wayangnya. Ia menyadari jiwa petualang anaknya itu diturunkan dari ayahnya yang telah tiada.“Changyi, kemarilah.” Ibu membelai rambut Changyi. “Tak ada binatang yang kamu sebutkan tadi. Itu hanya cerita khayalan ayahmu. Karena kamu berkali-kali bermain di luar tanpa seizin Ibu, Ibu terpaksa menceritakan keadaan kita. Hmmmm….”

Kata kata ibunya menggantung. Padahal, anak lelakinya menunggu.

“Tapi tidak sekarang. Sekarang waktunya tidur.”

                “Yaah,” lagi-lagi Changyi kecewa. Baginya, tak ada alasan yang masuk akal untuk melarangnya bermain.

Ibu belum tega menceritakan keadaan sesungguhnya. Telah duapuluh tahun lamanya rakyat dipimpin oleh Raja yang kejam. Raja memiliki kekuatan roh jahat.Seluruh sawah milik warga dihanguskan. Sedangkan, mereka bekerja di sawah Kerajaan. Rakyat hanya bisa makan dari upah yang sangat sedikit. Rakyat sangat menderita karenanya. Tapi tidak ada yang bisa melawan Raja..

Telah diramalkan oleh  pemuka adat bangsa Shu akan ada anak laki-laki yang dapat mengalahkan kekuatan jahat Raja. Anak laki-laki itu lahir pada tahun Naga Emas, pemberani dan memiliki tanda tapak kaki naga di punggungnya.Tanda itu hanya tampak pada hari ulangtahunnya yang keepuluh. Di hari itulah, kerajaan akan mengerahkan seluruh prajuritnya untuk mencari Sang Penunggang Naga Emas. Pada hari itu juga, seekor ular, kunang-kunang dan burung hantu yang hanya muncul di malam hari, akan membantu Sang Penunggang Naga Emas menyelamatkan diri.

Kakek dan Ayah Changyi, sebagai pemuka adat, telah memastikan Changyilah anak laki-laki itu. Tepat 10 hari lagi, Changyi berusia genap sepuluh tahun. Changyi adalah calon pejuang rakyat Shu!Kalau Raja tahu bahwa Changyi adalah anak laki-laki yang dicari, ia akan menangkapnya dan memaksa Sang Penunggang Naga Emas untuk menyerahkan Naga Emas. Karena itu Ibu sedapat mungkin menyembunyikan Changyi.

                Tak terasa, rembulan telah menampakkan sinarnya. Meski demikian desa Shu tetap tak ada suara. Tiba-tiba terdengar rerumputan kering terinjak kaki. Langkahnya cepat, ia tak mau terlihat oleh oranglain. Changyi! Anak itu semakin penasaran untuk ke luar rumah.Ia terduduk di pematang sawah. Berkali-kali ia ke sana, kondisinya tetap sama. Tak ada ular, kunang-kunang dan burung hantu yang sering diceritakan ayahnya, dua tahun silam. Di hadapannya hanya ada hamparan tanah kering dan kosong.  Pantas saja ia jarang bisa makan. Tak ada hasil panen. Ia meraih kayu kering yang ada di sebelahnya.Ia gunakan untuk memukul-mukul tanah. Changyi tak menyadari, prajurit kerajaan sedang mengintainya!

                “Anak kecil kau dalam bahaya! Ikut aku! Merayaplah!” sebuah suara mengejutkan Changyi. Seekor ular tepat berada di hadapannya.

                Tanpa bertanya, Changyi merayap dan mengikuti ular itu. Ia memang menanti ular yang sering diceritakan ayahnya itu. Prajurit Kerajaan kehilangan jejak. Alhasil, semua pintu rakyat digedor oleh para prajurit untuk mencari anak laki-laki yang baru saja mereka intai.

                Ibu Changyi terkejut bukan kepalang. Suara gedoran pintu begitu keras. Ia memeriksa tempat tidur. Changyi tidak ada!

                “Iya sebentar!,” seru Ibu Changyi menenangkan diri. Ia tidak boleh tampak gugup di hadapan para prajurit.

                Baru saja pintu dibuka, tiga prajurit langsung masuk ke dalam. Ibu Changyi gemetaran, tak sempat beralasan. Kalau tahu putranya tidak ada di tempat tidur, ia bisa dipenjara.Prajurit berbadan kurus tinggi itu membuka selimut Changyi. Ternyata Changyi sudah ada di tempat tidurnya! Ibu Changyi menutup mulutnya. Kaget luar biasa.

                “Hati-hati dengan anakmu!” mereka meninggalkan rumah Changyi begitu saja.

Ibu Changyi segera mengunci kembali pintu rumah. Dipeluknya Changyi erat-erat. Ia menangis. Ibu Changyi menyadari betul, putranya dalam bahaya.  Changyi harus disembunyikan. Tidak boleh keluar rumah. Karena prajurit selalu memeriksa anak lelaki yang memiliki tanda di punggungnya menjelang 10 tahun.



bersambung.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Kejang Kompulsif

Ujian Single Parent

Sendiri