Siapakah Kamu

Ini pertanyaan untuk mengetahui seberapa kita mengenal diri sendiri. Kadang kita bingung saat ditanya siapakah kamu. Aku? Ya, aku anaknya ibu ayah, anak ke dua dari 4 bersaudara. Lalu, bagaimana gambaran pribadimu? Aku  seorang yang percaya diri, cepat mengenal orang dan mudah merasa nyaman di suatu tempat.

Kalau kamu?

Aku seorang yang biasa saja. Ngga populer kurang percaya diri, apalagi kalau ngomong di depan umum.

Apa sih yang membuat kita jadi punya perasaan:  aku percaya diri, aku aku kurang percaya diri, dan lain-lain? Perasaaan-perasaan itu didapat dari penilaian kita terhadap diri sendiri dan penilaian lingkungan terhadap kita yang terbangun sejak masih kecil sampai sekarang. Istilahnya, konsep diri.  Lingkungan yang dimaksud adalah orangtua, saudara, teman-teman, guru dan orang-orang di sekitar kita. Namun, yang paling berpengaruh adalah orangtua, guru dan orang dewasa. Semakin banyak penilaian positif dari lingkungan, maka semakin tinggi konsep diri seseorang dan sebaliknya jika penilaian negatif lebih banyak ia dapatkan maka konsep dirinya akan rendah. Konsep diri yang tinggi dibangun oleh penerimaan lingkungan terhadap diri sendiri, dihargai oleh oranglain, dicintai oleh lingkungan sekitar kita dan yang sangat penting adalah sejauh mana kita mengenal Allah dan mengenal diri sendiri. Semakin kita mengetahui betapa Allah Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha Pembuka Rahmat, Maha Pengampun, Maha Meninggikan, Maha Penolong, maka kepada siapa lagi kita akan bergantung? Kita semakin memahami diri kita sebagai hamba-Nya. Dengan izin Allah, kita adalah umat terbaik dan diberikan kemampuan, maka penilaian orang lain dan diri kita sendiri menjadi tidak lebih berarti.

Konsep diri ini penting ngga sih? Untuk apa konsep diri? Ibarat bangunan, konsep diri merupakan pondasinya. Semakin kuat pondasinya, diharapkan semakin kokoh bangunannya. Ia tak mudah goyah saat ada ujian menerpa. Konsep diri yang positif akan memunculkan perasaan, pikiran dan tindakan yang positif juga seperti: senantiasa termotivasi memperbaiki diri, percaya diri, menerima pujian tanpa merasa malu, menerima pujian tanpa merasa bangga, menerima kelebihan dan kekurangan diri, dan mencari solusi dari setiap permasalahan dengan optimis.

Lalu bagaimana menguatkan konsep diri positif?

Pertama: belajar lagi mengenal Allah. Dekati Allah dengan cara mengingat, beribadah, berdoa memohon pertolongan-Nya. Allah yang menciptakan kita, tentu yang Maha Mengetahui siapa kita. 

Ke dua: mengenal diri sendiri. Setiap manusia memiliki nurani, yang senantiasa menginginkan kebaikan dan memiliki sifat dasar yaitu lemah lembut. Allah menyampaikan kepada kita semua bahwa kita adalah umat terbaik bukan? Lalu apa yang membuat kita ragu?

Ketiga: carilah sosok ideal. Sosok ideal adalah sosok yang ingin kita teladani. Nama lainnya idola. Cari sosok ideal yang nyata dan memang pernah ada dalam sejarah, yang namanya terlukis indah dan dikenang sepanjang masa. Terlebih nama itu ada dalam Al Qur’an maupun sejarah Islam. Sedikit demi sedikit kita ikuti kebiasaannya. Meski kita tidak sesempurna sosok teladan kita, setidaknya kita berada dalam track yang benar.

Keempat: carilah sebanyak banyaknya kelebihan atau kekuatan diri. Kita punya banyak hal-hal positif, lho. Kembangkan hobi dan minat bakat. Ayo, mengembangan diri.

Kelima: hargailah diri, sayangilah diri. Caranya? Bersyukur kepada Allah, mengucap Alhamdulillahirabbil’allamin. Setelah itu, beri apresiasi atas apa yang sudah dilakukan dan dicapai. Meski kadang kita bilang ah, segini doang atau apa yang mau diapreasiasi, gini-gini aja. Eits, tunggu dulu. Ingatlah, dengan izin Allah, kita sudah berjuang sejauh ini bukan? Berusaha semampu yang kita bisa. Nah, itu, bersyukur kepada Allah dan berterimakasihlah pada diri. Selain itu, ingatlah bahwa semua respon yang ada di lingkungan bisa kita terima dan bisa juga kita tolak. Kita bisa menerima respon positif dari oranglain, sedangkan respon yang membuat down, biarkanlah ia lewat saja. Ayo, bersama membangun konsep diri positif sebagai muslim sejati.

 

 

 

 

 

 

Comments

  1. Poin kelima kadang diabaikan, kadang kita lupa menghargai diri sendiri, berterima kasih pada diri sendiri, dan mensyukuri nikmat yang telah Allah beri, sehingga kita selalu merasa ada yang kurang nihh, padahal kitanya yang kurang bersyukur.

    Makasih teteh, kembali diingatkan lagiii..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kejang Kompulsif

Ujian Single Parent

Sendiri